Cari Blog Ini

Rabu, 25 Mei 2011

Sang Matematikawan Jenius, Abu Wafa Dalam Semangat Keilmuwan


Harapan merupakan sebuah jalan menuju pencapaian ketika langkah mengalami rintangan dan  menghadapi  hambatan yang senantiasa menemani kehidupan. Harapan selalu menjadi penawar ketika diri terasa di dalam gelapnya asa. Harapan ialah pelita rembulan dan bintang-bintang ketika gelap malam menghampiri.
Setiap manusia pasti memiliki harapan karena manusia memiliki hati, perasaan, dan akal budi. Saya, Yoga JP, memiliki harapan pula. Harapan saya, yaitu dapat menjadi pribadi yang membuat orang tua bahagia dan dapat memegang teguh amanah alm. kakek untuk menjadi insan yang berguna bagi orang lain dalam kebaikan. Untuk mewujudkan hal itu, saya berusaha untuk bisa meningkatkan kemampuan yang saya miliki dengan melihat kepada beberapa orang yang sudah menjadi tokoh karena keikutsertaan dalam memberikan kemanfaatan yang mereka mliiki kepada masyarakat luas bahkan hingga beberapa abad setelahnya sebagai contoh figure yang saya kagumi.
Salah satu tokoh yang saya kagumi ialah Abu Wafa, nama lengkapnya 
Abū al-Wafāʾ Muḥammad ibn Muḥammad ibn Yaḥyā ibn Ismāʿīl ibn al-ʿAbbās al-Būzjānī
. Ia merupakan salah satu Matematikawan muslim yang tak pernah padam semangatnya dalam menggali ilmu bahkan apa yang ia giati tersebut dapat menjadi sebuah lompatan ilmu pengetahuan yang diakui oleh dunia dan masih dipergunakan serta dikembangkan hingga saat ini. Kegigihan yang ia tunjukkan dapat terlihat dari banyaknya karya ilmiah yang ia hasilkan dan beberapa karya ilmiah tersebut masih tersimpan di beberapa perpustakaan di berbagai negara. Kejelasan dan kekuatan tekad dalam mencapai tujuan yang ia lakukan terlihat jelas dari riwayat semasa hidupnya. Sebagai seorang ilmuwan, ia menjadi semangat dalam menuntut  dan mengamalkan ilmu bagi setiap pelajar, mahasiswa, dan siapa saja yang ingin mencapai dan memberikan sesuatu dengan batasan bidang keilmuwan yang dimiliki dalam manfaat kebaikan.
Saya, sebagai seorang muslim sangatlah bangga akan hasil yang Abu Wafa berikan, bukan hanya bagi sesama muslim, namun bagi seluruh umat yang memiliki semangat yang sama dalam menggali potensi ilmu pengetahuan yang tidak terbatas dan terus berkembang. Saya akan terus menanamkan tekad yang Abu Wafa pancarkan dalam menuntut untuk kebaikan sehingga saya dapat menjadi insan yang berguna, bukan hanya untuk sesama muslim namun untuk seluruh kebaikan manusia. 

Ahli matematika Muslim fenomenal di era keemasan Islam ternyata bukan hanya Al-Khawarizmi. Pada abad ke-10 M, peradaban Islam juga pernah memiliki seorang matematikus yang tak kalah hebat dibandingkan Khawarizmi. Matematikus Muslim yang namanya terbilang kurang akrab terdengar itu bernama Abul Wafa Al-Buzjani. “Ia adalah salah satu matematikus terhebat yang dimiliki perabadan Islam,” papar Bapak Sejarah Sains, George Sarton dalam bukunya bertajuk Introduction to the History of Science.Abul Wafa adalah seorang saintis serba bisa. Selain jago di bidang matematika, ia pun terkenal sebagai insinyur dan astronom terkenal pada zamannya.
Kiprah dan pemikirannya di bidang sains diakui peradaban Barat. Sebagai bentuk pengakuan dunia atas jasanya mengembangkan astronomi, organisasi astronomi dunia mengabadikannya menjadi nama salah satu kawah bulan. Dalam bidang matematika, Abul Wafa pun banyak memberi sumbangan yang sangat penting bagi pengembangan ilmu berhitung itu.
“Abul Wafa adalah matematikus terbesar di abad ke 10 M,” ungkap Kattani. Betapa tidak. Sepanjang hidupnya, sang ilmuwan telah berjasa melahirkan sederet inovasi penting bagi ilmu matematika. Ia tercatat menulis kritik atas pemikiran Eucklid, Diophantos dan Al-Khawarizmi yang risalah itu telah hilang. Sang ilmuwanpun mewariskan Kitab Al-Kami (Buku Lengkap) yang membahas tentang ilmu hitung (aritmatika) praktis. Kontribusi lainnya yang tak kalah penting dalam ilmu matematika adalah Kitab Al-Handasa yang mengkaji penerapan geometri. Ia juga berjasa besar dalam mengembangkan trigonometri.
Abu Wafa tercatat sebagai matematikus pertama yang mencetuskan rumus umum sinus. Selain itu, sang matematikuspun mencetuskan metode baru membentuk tabel sinus. Ia juga membenarkan nilai sinus 30 derajat ke tempat desimel kedelapan. Yang lebih mengagumkan lagi, Abu Wafa membuat studi khusus tentang tangen serta menghitung sebuah tabel tangen.
Jika Anda pernah mempelajari matematika tentu pernah mengenal istilah secan dan cosecan. Ternyata, Abul Wafalah yang pertama kali memperkenalkan istilah matematika yang sangat penting itu. Abu Wafa dikenal sangat jenius dalam bidang geometri. Ia mampu menyelasikan masalah-masalah geometri dengan sangat tangkas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar