Hipertensi, penyakit darah tinggi, adalah kondisi medis
saat tekanan darah dalam arteri meningkat melebihi batas normal. Tahukah kalian
? Tekanan darah menunjukan tingkat
kemampuan kekuatan dorongan darah pada permukaan pembuluh darah arteri saat
darah dipompa oleh jantung. Sebenarnya, hipertensi itu sendiri dapat
dikendalikan dengan memahami faktor-faktor resiko dan pengendalian yang tepat
agar tidak memicu munculnya penyakit ini. Kondisi-kondisi yang merupakan faktor
resiko terjadinya hipertensi meliputi faktor fisik, lingkungan, dan pengaruh
stres.
Berikut di bawah ini penjelasan singkat mengenai kondisi faktor
resiko terjadinya hipertensi.
a.
Faktor Fisik
·
Obesitas (Kegemukan)

·
Hereditas (Keturunan)
Faktor genetik memberikan peranan
terhadap timbulnya hipertensi. Hal ini terbukti dengan ditemukannya kejadian
bahwa hipertensi lebih banyak terjadi terhadap orang kembar. Kondisi dimana seorang
penderita dengan hipertensi primer (esensial), apabila dibiarkan secara alamiah
bersama lingkungannya, maka akan menyebabkan hipertensinya berkembang dan dalam
waktu sekitar 30-50 tahun akan timbul gejala-gejala terjadinyta hipertensi. Apabila
riwayat
hipertensi ditemukan pada kedua
orangtuanya, dugaan terjadinya hipertensi sesensial akan lebih besar. Demikan pula
dengan kembar monozigot (satu sel telur), apabila salah satunya adalah penderita
hipertensi, dugaan bahwa kembarannya juga mengalami hipertensi sangatlah besar.
·
Seks (Jenis Kelamin)
Kebanyakan pria lebih banyak mengalami kemungkinan
terjadinya hipertensi daripada kebanyakan wanita. Hipertensi berdasarkan faktor
jenis kelamin ini dapat pula dipengaruhi oleh faktor lain, yaitu psikologi. Pada
wanita sering kali dipicu oleh perilaku yang tidak sehat seperti merokok, kelebihan
berat badan; depresi, dan rendahnya status pekerjaan. Sedangkan pada pria lebih berhubungan dengan
pekerjaan yang mempengaruhi faktor psikis yang kuat.
b.
Faktor Lingkungan
·
Pola Konsumsi

·
Gaya Hidup Kurang Sehat
Diantara kegiatan yang termasuk gaya
hidup yang kurang sehat, yaitu kebiasaan merokok, konsumsi minuman beralkohol,
dan sedikitnya aktivitas tuh akibat dampak pola hidup modern yang keliru. Saat ini
terlihat ada kecenderungan bahwa masyarakat perkotaan lebih banyak menderita
hipertensi dibandingkan dengan masyarakat pedesaan. Hal ini dapat dijelaskan
dengan adanya gaya hidup masyarakat perkotaan yang kurang sehat sehingga
mempengaruhi tingkat hipertensi yang terjadi.
c.
Faktor Stres

Stres sendiri adalah
rasa takut dan cemas dari perasaan dan tubuh terhadap perubahan di lingkungan. Secara
fisiologis, bila ada sesuatu yang mengancam, kelenjar pituitary otak
mengirimkan “peringatan” dan hormon ke kelenjar endokrin, yang kemudian
mengalirkan hormon adrenalin dan hidrokortison ke dalam darah. Hasilnya, tubuh
menjadi siap untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan yang muncul. Secara alamiah,
yang dirasakan adalah degup jantung yang berpacu lebih cepat dan keringat
dingin yang biasanya mengalir di tengkuk.
Dalam kondisi stres,
tubuh langsung menyesuaikan diri terhadap tekanan yang datang. Inilah yang
menyebabkan bahwa stres melebihi daya tahan atau kemampuan tubuh yang biasanya.
Akan tetapi, penyesuaian tubuh ini dapat
menyebabkan gangguan, baik secara psikis maupun fisik. Adanya hormon adrenalin
dan hidrokortison yang dihasilkan sebagai reaksi tubuh terhadap stres, bila
berlebihan dan berlangsunf dalam jangka waktu lama, dapat menyebabkan reaksi
dari organ tubuh yang lain. Penelitian di Amerika Serikat menemukan bahwa enam
penyebab utama kematian yang erat hubungannya denga stres adalah penyakit jantung koroner, kanker, paru-paru, kecelakaan,
pengerasan hati, dan bunuh diri.
Daftar Pustaka
Widjadja, Rafelina. 2009.
Penyakit Kronis Tindakan, Pencegahan, dan
Pengobatan Secara Medis Maupun Tradisional. Jakarta: Bee Media Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar