Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 21 Juni 2012

Manusia dan Tanggung Jawab





A.               Pengertian Tanggung Jawab
Tanggung  jawab  menurut  kamus  umum  Bahasa  Indonesia  adalah,  keadaan  wajib menanggung segala sesuatunya. Sehingga bertanggung jawab menurut kamus umum bahasa Indonesia adalah berkewajiban menanggung, memikul jawab, menanggung segala sesuatunya, atau memberikan jawab. Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja  maupun  yang  tidak  di sengaja.  Tanggung  jawab  juga  berarti  berbuat  sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.
Seorang mahasiswa mempunyai kewajiban belajar.  Bila belajar, maka hal itu berarti ia telah memenuhi kewajibannya. Berarti pula ia telah bertanggung jawab atas kewajibannya. Sudah tentu bagaimana kegiatan belajar si mahasiswa, itulah kadar pertanggung jawabannya. Bila pada ujian ia mendapat nilai A,  B  atau C  itulah kadar pertanggung-jawabannya. Bila si mahasiswa malas belajar, dan ia sadar akan hal itu. Tetapi ia tetap tidak mau belajar dengan  alasan  capek,  segan dan  Iain-lain.  Padahal  ia menghadapi  ujian. Ini  berarti bahwa si mahasiswa tidak memenuhi kewajibannya, berarti pula ia tidak bertanggung jawab.
Berikut ini diberikan penggambaran bagaimana suatu tanggung jawab diberikan oleh dua orang yang kualitas tanggung jawabnya berbeda.
Widodo  ialah  seorang  pegawai  yang  tekun  dalam  melaksanakan tugasnya. la datang sebelum waktu kerja dimulai. Tanpa banyak bicara dikerjakan  tugasnya.  Setelah  selesai  tugas  yang  dikerjakan,  ia memberikan   hasil   pekerjaannya   kepada   atasannya   sebagai pertanggungjawabannya. Ia pun tidak banyak hilir mudik di kantornya untuk  persoalan  kepentingannya  sendiri,  seperti  buang  air,  mencari makanan  atau  minuman.  Ia  pun  pulang  pada  waktu jam  kantornya usai. Bila  ada  pertanyaan  dari  atasannya  tentang  pekerjaan  yang dilakukan, ia pun memberikan jawaban secara baik dan pasti. Ia dapat memberikan  pertanggungjawaban  atas  tugas-tugas  yang  diberikan kepadanya, sehingga konduitenya baik, naik pangkat pada waktunya, dan memperoleh penghargaan khusus waktu tertentu. Berbeda dengan Hudiyanto yang datangnya terlambat dan pulangnya sering  lebih  cepat.  Sementara pada waktu  kerja  ada  saja  kepentingan pribadinya  yang  lebih  dulu  dikerjakan  daripada kepentingan kantor, sehingga  pekerjaan  yang  diserahkan  kepadanya  sering  tidak  selesai pada waktunya, itu pun masih banyak kekurangan atau kesalahan yang terdapat di dalamnya.  Bila  ia  ditanya oleh  atasannya,  selalu  ada  saja yang dijawabnya.  Yang rumahnya jauh,  istri  atau anaknya sakit, ada urusan  keluarga,  ada  famili  yang  meninggal.  Karena  itu  kenaikan pangkat dan gajinya sering ditunda, dan ada gejala ia akan dipindahkan ke tempat lain yang sifatnya hukuman.  Hudiyanto bukan orang yang bisa dan mau bertanggung jawab, melainkan ia hanya bisa tanggung menjawab saja.
Seseorang mau bertanggung jawab karena ada kesadaran atau keinsafan atau pengertian atas  segala perbuatan dan akibatnya dan atas kepentingan pihak lain.  Timbulnya tanggung jawab itu karena manusia itu hidup bermasyarakat dan hidup dalam lingkungan alam. Manusia tidak  boleh  berbuat  semaunya  terhadap  manusia  lain  dan  terhadap  alam  lingkungannya. Manusia  menciptakan  keseimbangan,  keserasian,  keselarasan  antara  sesama  manusia  dan antara manusia dan lingkungan.
Tanggung jawab itu bersifat kodrati, artinya sudah menjadi bagian kehidupan manusia, bahwa setiap manusia pasti dibebani dengan tanggung jawab. Apabila ia tidak mau bertanggung jawab, maka ada pihak lain yang memaksakan tanggung jawab itu. Dengan demikian tanggung jawab itu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu dari sisi pihak yang berbuat dan dari sisi kepentingan pihak lain. Dari sisi si pembuat ia harus menyadari akibat perbuatannya itu, dengan demikian ia sendiri pula yang harus memulihkan ke dalam keadaan baik. Dari sisi pihak lain, apabila si pembuat tidak mau bertanggung jawab, pihak lain yang akan memulihkan baik dengan cara individual  maupun dengan cara kemasyarakatan.
Apabila dikaji,  tanggung jawab itu  adalah kewajiban atau beban yang harus dipikul atau  dipenuhi  sebagai  akibat  dari  pebuatan  pihak  yang  berbuat,  atau  sebagai  akibat  dari perbuatan pihak lain, atau sebagai pengabdian, pengorbanan pada pihak lain. Kewajiban atau beban  itu  ditujukan  untuk  kebaikan  pihak  yang  berbuat  sendiri,  atau  pihak  lain.  Dengan keseimbangan, keserasian, keselarasan antara sesama manusia, antara manusia dan lingkungan, antara manusia dan Tuhan selalu dipelihara dengan baik. Tanggung jawab adalah ciri manusia beradab (berbudaya). Manusia merasa bertanggung jawab  karena  ia  menyadari  akibat  baik  atau  buruk  perbuatannya  itu,  dan  menyadari  pula bahwa  pihak  lain  memerlukan  pengabdian  atau  pengorbanannya.  Untuk  memperoleh  atau meningkatkan  kesadaran  bertanggung  jawab  perlu  ditempuh  usaha  melalui  pendidikan, penyuluhan, keteladanan, dan takwa kepada Tuhan  Yang  Maha Esa  .
B.            Macam-macam  Tanggung Jawab
Manusia itu berjuang memenuhi keperluannya sendiri atau untuk keperluan pihak lain. Untuk itu ia manghadapi manusia lain dalam masyarakat atau menghadapi lingkungan alam. Dalam usahanya itu manusia juga menyadari bahwa ada kekuatan lain yang ikut menentukan yaitu  kekuasaan  Tuhan.  Dengan  demikian  tanggung jawab  itu  dapat  dibedakan  menurut keadaan manusia atau hubungan yang dibuatnya.  Atas dasar ini, lalu dikenal beberapa jenis tanggung jawab, yaitu  :
a)      Tanggung jawab  terhadap  diri  sendiri
Tanggung jawab terhadap diri sendiri menuntut kesadaran setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah kemanusiaan mengenai dirinya sendiri. Menurut sifat dasamya manusia adalah mahluk bermoral, tetapi manusia juga seorang pribadi. Karena merupakan  seorang  pribadi  maka  manusia  mempunyai  pendapat  sendiri,  perasaan  sendiri, angan-angan sendiri. Sebagai perwujudan dari pendapat, perasaan dan angan-angan itu manusia berbuat  dan bertindak.  Dalam  hal  ini  manusia tidak  luput dari  kesalahan,  kekeliruan,  baik yang disengaja maupun tidak.
Contoh  :
Rudi membaca sambil berjalan. Meskipun sebcntar-sebentar ia melihat jalan, tetap juga ia lengah, dan terperosok ke sebuah lobang.  Kakinya terkilir.   Ia  menyesali  dirinya  sendiri  akan  kejadian  itu.   Ia  harus beristirahat  di rumah  beberapa  hari.  Konsekuensi  tinggal  di  rumah beberapa hari merupakan tanggung jawab sendiri akan kelengahannya.
b)      Tanggung jawab terhadap  keluarga
Keluarga merupakan masyarakat kecil. Keluarga terdiri dari suami-istri, ayah-ibu dan anak-anak, dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya. Tanggung jawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggung jawab juga merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehidupan.
Contoh  :
Seorang ibu telah dikarunia tiga anak, kemudian oleh sesuatu sebab suaminya meninggal dunia, karena ia tidak mempunyai pekerjaan disebabkan tidak bekerja pada waktu suaminya masih hidup, maka demi rasa tanggung jawabnya terhadap keluarga ia melacurkan diri.
Meninjau dari segi moral hal ini tidak bisa diterima karena melacurkan diri  termasuk tindakan dikutuk,  tetapi  dari  segi  tanggung jawab  ia termasuk  orang  yang  dipuji,  karena  demi  rasa  tanggung  jawabnya terhadap keluarga ia rela berkorban menjadi manusia yang hina dan dikutuk.
c)       Tanggung jawab terhadap  masyarakat
Pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain, sesuai dengan kedudukannya  sebagai  mahluk  sosial.  Karena  membutuhkan manusia  lain maka  ia  harus berkomunikasi  dengan  manusia lain  tersebut.  Sehingga  dengan  demikian manusia  di  sini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai mempunyai tanggung jawab seperti anggota masyarakat yang lain agar dapat melangsungkan hidupnya dalam masyarakat tersebut. Wajarlah apabila segala tingkah laku dan perbuatannya harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Contoh  :
Hanafi  terlalu  congkak  dan  sombong,  ia  mengejek  dan  menghina pakaian pengantin adat Minangkabau.  Ia tidak memakai pakaian itu, bahkan penutup kepala yang dikeramatkan pun semula ditolak. Tetapi setelah  ada  ancaman  dari  pihak  pengiring,  terpaksa  Hanafi  mau memakainya juga.  Di dalam peralatan itu hampir-hampir pemikahan dibatalkan, karena timbul perselisihan antara pihak kaum perempuan dengan pihak kaum laki-laki. Pangkalnya dari Hanafi juga. la berkata pakaian mempelai yang masih sekarang dilazimkan di negerinya, yaitu pakaian secara zaman dahulu, disebutkannya cara anak komedi Istambul. Jika ia dipaksa memakai  secara itu,  sukalah sahaja,  demikian katanya dengan pendek. Setelah timbul pertengkaran di dalam keluarga pihaknya  sendiri  akhimya  diterimalah,  bahwa  ia memakai  smoking, yaitu jas hitam, celana hitam, dengan berompi dan berdasi putih. Tetapi waktu  hendak  menutup  kepalanya,  sudah  berselisih  pula.  Dengan kekerasan  ia  menolak  pakaian  dester  suluk,  yaitu  pakaian  orang Minangkabau.  Bertangisan  sekalipun perempuan meminta  supaya  ia jangan menolak tanda keminangkabauan yang satu, yaitu selama beralat saja. Jika peralatan sudah selesai, bolehlah ia nanti memakai sekehendak hatinya pula. Hanafi tetap menolak kehendak orang tua, ia tidak hendak menutup kepala,  karena lebih  gila pula dari  pada  anak komidi,  bila memakai dester saluk dengan baju smoking dan dasi. Setelah ibunya sendiri hilang sabamya dan memukul-mukul dada di muka anak yang "terpelajar" itu, barulah Hanafi menurut kehendak orang banyak, sambil mengeluh dan teringat akan badannya yang sudah "tergadai". Untunglah ia menurutkan hal menutup kepala itu, karena sekalian pengantar dan pasuinandan  (pengiring  bangsa  perempuan)  sudah  berkata  bahwa mereka tak sudi mengiringkan "mempelai  didong".  Akhimya Hanafi tunduk  pula  dengan  norma-nomia  yang  berlaku  dalam  masyarakat, meskipun  harus  bersitegang  dahulu.  Sebagai  pertanggungjawaban kecongkakan dan kesombongannya itu,  Hanafi  harus  menerima  rasa antipati dari masyarakat Minangkabau yang sangat ketat terhadap adat itu  ( Salah Asuhan ).
d)       Tanggung jawab kepada Bangsa / Negara
Suatu kenyataan lagi,  bahwa tiap manusia, tiap individu  adalah  warga negara suatu negara. Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara. Manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kepada negara.
Contoh  :
1)                  Dalam  novel jalan  tak  ada  ujung  karya  Muchtar  Lubis,  Guru  Isa  yang  tekenal sebagai guru yang baik, terpaksa mencuri barang-barang milik sekolah demi rumah tangganya.  Perbuatan  guru  isa  ini  harus  pula  dipertanggungjawabkan  kepada pemerintah. kalau perkataan itu diketahui ia harus berurusan dengan pihak kepolisian dan pengadilan.
2)            Kumbakama  menolak  perintah  kakaknya,  juga  rajanya  yaitu  Rahwana  untuk berperang melawan rama, karena kakaknya berbuat keburukan. Bukan main Rahwana. Ia  membangkit-bangkitkan  hutang  budi  Kumbakama  terhadap  kerajaan  Alengka. Kumbakama menyadari kedudukannya sebagai panglima perang, karena itu berangkat juga ia ke medan perang menghadapi Rama. Akan tetapi ia maju ke medan perang bukan karena membela kakaknya, melainkan karena rasa tanggung jawabnya sebagai panglima yang harus membela negara ( Ramayana).
e)      Tanggung jawab terhadap Tuhan
Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggung jawab, melainkan untuk mengisi kehidupannya manusia mempunyai tanggung jawab langsung terhadap Tuhan. Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukuman-hukuman Tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama. Pelanggaran dari hukuman-hukuman tersebut  akan  segera diperingatkan oleh Tuhan dan jika dengan peringatan  yang  keras pun manusia masih juga tidak menghiraukan maka Tuhan akan melakukan kutukan. Sebab dengan mengabaikan perintah-perintah Tuhan  berarti  mereka meninggalkan  tanggung jawab  yang seharusnya dilakukan manusia terhadap Tuhan sebagai penciptanya, bahkan untuk memenuhi tanggung jawabnya, manusia periu pengorbanan dan menanggung akibatnya.
Contoh :
Seorang biarawati dengan ikhlas tidak menikah selama hidupnya karena dituntut tanggung jawabnya terhadap Tuhan sesuai dengan hukum-hukum yang ada pada agamanya, hal ini dilakukan agar ia dapat sepenuhnya mengabdikan diri kepada Tuhan demi rasa tanggung jawabnya.  Dalam  rangka memenuhi tanggung jawab ini  ia berkorban tidak memenuhi kodrat  manusia  pada  umumnya  yang  seharusnya  meneruskan  keturunannya,  yang sebetulnya juga merupakan sebagian tanggung jawabnya sebagai makhluk Tuhan.
C.            Pengabdian dan Pengorbanan
Wujud  tanggung jawab juga  berupa pengabdian  dan  pengorbanan.  Pengabdian  dan pengorbanan adalah perbuatan baik untuk kepentingan manusia itu sendiri.
a)      Pengabdian
Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta, kasih sayang, hormat, atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian  itu  pada hakekatnya adalah rasa tanggung jawab.  Apabila orang bekerja keras  sehari  penuh untuk  mencukupi  kebutuhan,  hal  itu berarti  mengabdi kepada keluarga. Lain halnya jika kita membantu teman dalam kesulitan, mungkin sampai berhari-hari itu bukan pengabdian, tetapi  hanya bantuan saja. Berikut ini diberikan gambaran, bagaimana orang tua mengabdi kepada putra-putrinya demi  kebahagiaan keluarga mereka.
Sepasang  suami  istri  guru  sekolah  dasar  di  sebuah  desa.  Anaknya cukup  banyak,  yaitu  enam orang.   Untuk  dapat  memenuhi  kebutuhan keluarga besar tesebut, si  ibu tetap bekerja sebagai  guru,  karena tahu bahwa  gaji  suaminya juga  kecil.  Si  ibu  di  rumah  tidak  melepaskan tanggung jawabnya sebagai  ibu  rumah tangga,  karena memang tidak mampu membayar pembantu.  Untuk urusan pendidikan di sekolah si bapak  yang  bertanggung  jawab,  sedangkan  si  ibu  untuk  urusan pendidikan  yang  bersangkutan  dengan  rumah  tanggga.  Si  Bapak membimbing  putra-putrinya  dalam  belajar  di  rumah  malam  hari, sedangkan siang hari seling dengan praktek biologi seperti  menanam sayur, memelihara ternak yang hasilnya langsung dapat dimanfaatkan oleh keluarga. Si ibu mengajar putra-putrinya memasak, mencuci piring, mencuci  pakaian,  membersihkan rumah.  Anak-anaknya  yang  mulai besar menjadi semacam asistennya. Setelah anak-anaknya mulai harus sekolah di kota, mereka itu hanya disewakan kamar yang murah dengan harus memasak dan mencuci sendiri yang sudah terlatih baik waktu di desa.  Demikianlah  maka kamar itu  makin banyak penghuninya oleh adik-adik  yang  juga  menyusul  kakak  untuk  belajar  di  kota.  Sekali seminggu  seorang  pulang  untuk  mengambil  uang dan perbekalan di desa,  dan  sekali  sebulan  ayah-ibu  datang  ke  kota  untuk  tetap mengakrabkan  hubungan  mereka  sebagai  keluarga,  sekaligus mengontrol  apakah  anak-anaknya menjalankan  kewajibannya  secara benar.  Hal  demikian juga  dilakukan  oleh  keluarga  itu  waktu  anak terbesar harus masuk ke perguruan tinggi. Pada waktu si sulung sudah tamat dan bekerja, ia pindah ke tempat kerjanya dan berfungsi sebagai donatur terhadap adik-adiknya. Walhasil sejumlah putra-putri keluarga guru  tersebut  dapat  menamatkan  sekolahnya  dan  menjadi  sarjana. Sementara itu si bapak dan ibu bertahan bekerja sebagai guru di desa demi  mengabdi  kepada  putra-putrinya  agar  dapat  menjadi  manusia yang  hidupnya  tidak  sesulit  dirinya.  Waktu  mereka  sudah  pensiun, mereka  merasakan  bahwa  pengabdiannya  pada  putra-putrinya  juga sudah  cukup,  mereka  merasa  puas  karena  mampu  membekali putra-putrinya  dengan  ilmu  yang  dijadikan  kail  dalam  menempuh kehidupan  ini.  Orang  tua  itu  tidak  membekali  dengan  ikan,  karena akan cepat habis tanpa bekas  !
Manusia tidak ada dengan sendirinya, tetapi merupakan makhluk ciptaan Tuhan. Sebagai ciptaan Tuhan manusia wajib mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan itu merupakan perwujudan tanggung jawabnya kepada Tuhan Yang  Maha Esa. Pengabdian kepada agama atau kepada Tuhan terasa menonjolnya seperti yang dilakukan oleh para biarawan dan biarawati. Pada umumnya mereka itu adalah orang-orang yang terjun di ladang Tuhan karena kesadaran moralnya, karena panggilan Tuhan. Mereka meningggalkan keluarganya  dan  tidak  akan  berkeluarga.  Sehingga  hampir  seluruh waktu,  pikiran, tenaga maupun kegiatan hanya tercurah untuk memuliakan Tuhan. Dalam agama yang tidak membedakan  manusia  atas  dasar  ras  ataupun  bangsa  itu,  para  biarawan  atau  biarawati ditempatkan di daerah - daerah yang jauh dan terpencil. Semuanya dilakukan dengan semboyan tugas suci. Selain pada gereja Katolik, pada agama Budha juga dikenal biarawati atau biarawan dengan sebutan bhiksu dan bhiksuni dengan cara kehidupan yang tidak jauh berbeda. Pengabdian kepada negara dan bangsa yang juga menyolok antara lain dilakukan oleh pegawai negeri yang bertugas menjaga mercusuar di pulau yang terpencil. Mereka bersama keluarganya hidup terpencil dari masyarakat ramai, sementara itu setiap hari tiupan angin kencang dari laut tidak pernah berhenti, apalagi bila terjadi badai. Mereka bersunyi diri dalam mengabdikan diri demi keselamatan kapal yang lalu lalang.  Kesenangan yang dapat dirasakan oleh pegawai negeri di kota tidak dapat dirasakan, mungkin sekali-sekali bila mereka memperoleh cuti tahunan. Kesenangan dan kegembiraan sesama pegawai negeri hanya mereka bayangkan secara terang di  alam yang demikian sepi.  Anak-anak mereka sulit berkembang sebagai  makhluk  sosial,  dan  terbatas  untuk  dapat  mengembangkan  diri  akibat  terpencilnya tempat tinggalnya. Dengan membandingkan mereka dan kehidupan kawan-kawannya di kota atau di tempat yang lebih enak, terasa arti pengorbanan mereka demi keselamatan manusia lain, bangsa dan negara sendiri. Berapa banyakkah orang yang mau dan mampu menghayati pengorbanan mereka itu?
b)       Pengorbanan
Pengorbanan berasal dari kata korban atau kurban yang berarti persembahan, sehingga pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan yang tidak mengandung pamrih. Suatu  pemberian yang didasarkan atas kesadaran moral yang tulus ikhlas semata-mata.
Pengorbanan dalam arti pemberian sebagai tanda kebaktian tanpa pamrih dapat dirasakan bila klta membaca atau mendengarkan khutbah agama. Dari kisah para tokoh agama atau nabi, manusia memperoleh tauladan, bagaimana semestinya wajib berkorban. Berikut ini diberikan dua buah penggambaran.
Pangeran Sidharta Gautama dari Kapilawastu diharapkan oleh ayahnya untuk  kemudian  menggantikan  kedudukannya  sebagai  raja.  Tetapi, Pangeran  tersebut  lebih  tetarik  pada  kehidupan  pertapa  untuk memperoleh  penerangan  agung  bagaimana  caranya  manusia  dapat membebaskan  dirinya  dari  sengsara  (samsara)  melalui  pelepasan  (mokhsa)  dan  mencapai  kehidupan  abadi  di  sorga  (nirvana),   la mengorbankan kehidupannya  yang  mewah duniawi  dalam  istana,  ia mengorbankan  kepentingan keluarganya,  karena  memandang  bahwa kepentingan umat manusia yang bodoh (avidhya) perlu didahulukan. Usahanya berhasil memperoleh penerangan agung di tempat pertapaan Bodh  Gaya,  yang kemudian disiarkan kepada umat manusia.  Ia rela mengorbankan  duniawinya,  keluarganya,  demi  kepentingan  umat manusia yang derajatnya lebih tinggi. la menjadi seorang Budha yang akhirnya tidak dilahirkan kembali dan menjadi pendiri agama Budha. Nabi Ibrahim mendapat perintah dari Allah untuk mengorbankan putra tunggalnya Ismail. Walaupun ia sangat sayang pada putranya tersebut, perintah Allah untuk mengorbankan tetap dipatuhinya. Allali menguji kesetiaan dan besarnya pengorbanan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim tidak sampai hati melihat pisaunya dipotongkan ke leher putranya, tetapi ia sudah  bertekad  setia  menjalankan  perintah-Nya.  Kemudian  terbukti, bahwa putra yang mau dikorbankan kepada Allah sudah berganti dengan biri-biri. Pengorbanan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim kepada Allali lebih tinggi kadarnya daripada pengorbanan oleh nabi ibrahim sekarang yang  ditiru  oleh  oleh  umat  Islam  yang  menjalankan  ibadah  haji  di Tanah Suci maupun umat Islam di wilayah lain dengan mengorbanan ternak untuk keperluan fakir miskin pada hari  raya Idul  Qurban.
Perbedaan antara pengertian pengabdian dan pengorbanan tidak begitu jelas.  Karena adanya pengabdian tentu ada pengorbanan. Antara sesama teman, sulit dikatakan pengabdian, karena  kata  pengabdian  mengandung  arti  lebih  rendah  tingkatannya.  Tetapi  untuk  kata pengorbanan dapat juga diterapkan kepada sesama teman. Pengorbanan merupakan akibat dari pengabdian. Pengorbanan dapat berupa harta benda, pikiran, perasaan, bahkan dapat juga berupa jiwanya. Pengorbanan diserahkan secara ikhlas tanpa pamrih, tanpa ada perjanjian, tanpa ada transaksi, kapan saja diperlukan. Pengabdian lebih banyak menunjuk kepada perbuatan sedangkan, pengorbanan lebih banyak menunjuk kepada pemberian sesuatu misalnya berupa pikiran, perasaan, tenaga, biaya, dan waktu.  Dalam  pengabdian  selalu  dituntut  pengorbanan,  tetapi  pengorbanan  belum  tentu menuntut pengabdian.
Kesediaan  seorang  guru  sekolah  dasar  ditempatkan  di  pelosok  terpencil  daerah transmigrasi,  adalah pengabdian  yang juga  menuntut  pengorbanan.  Dikatakan  pengabdian karena  ia mengajar di sana tanpa menerima gaji dari pemerintah, tanpa diurus oleh pihak berwenang usul pengangkatannya, ia hanya bertanggung jawab untuk kemajuan dan kecerdasan masyarakat/ bangsanya. Ia hanya menerima penghargaan dan belas kasihan dari masyarakat setempat.  Pengorbanan  yang  ia  berikan  berupa  tenaga,  pikiran,  waktu  untuk  kepentingan anak  didiknya.
Dalam  novel berjudul "Siti  Nurbaya" karya Marah Rusli, betapa besar pengorbanan gadis Siti Nurbaya sebagai pengabdiannya kepada orang tua.  Orang tua Siti Nurbaya tidak mampu membayar hutang kepada Datuk Maringgih. Sebagai tebusannya, Siti Nurbaya dibujuk agar bersedia kawin dengan Datuk Maringgih, si tua bangka, walaupun sebenamya ia sudah mengikat janji dengan pemuda pujaannya bernama Syamsul Bahri. Demi pengabdian kepada bapaknya , Siti Nurbaya bersedia memutuskan hubungannya dengan Syamsul Bahri dan mau dikawinkan dengan Datuk Maringgih, walaupun dengan perasaan yang sangat berat.
Artikel :
Penerbangan Indonesia Harus Tunduk Hukum Internasional
| Kamis, 28 Februari 2008 | 18:59 WIB
JAKARTA, KAMIS - Sebagai bangsa yang beradab, Indonesia wajib mengikuti peraturan-peraturan internasional. Termasuk di antaranya hukum penerbangan Indonesia harus mengikuti hukum penerbangan internasional. Pendapat itu dikemukakan oleh Profesor Priyatna Abdurrasyid, pakar hukum penerbangan dalam diskusi panel soal kriminalisasi pilot yang diadakan SS Edu dan Majalah Angkasa, di Jakarta, Kamis (28/2).
Menurut Priyatna, hukum pidana penerbangan sekarang sudah termasuk dari 12 hukum pidana eksklusif, sama seperti hukum pidana korupsi. Hukum penerbangan bersifat spesialis dan bisa mengesampingkan hukum yang bersifat generalis seperti KUHP.
"Dengan demikian, bila terjadi kesalahan dalam dunia penerbangan Indonesia, hanya ada dua lembaga yang bertanggung jawab untuk menghukum. Yaitu hukuman administratif oleh Pemerintah dan hukuman disiplin oleh maskapai yang bersangkutan," ujarnya.
Namun, lanjut Priyatna, satu obyek tidak bisa dikenai dua tanggung jawab sekaligus. “Apalagi ditambah dengan hukum pidana, itu bisa melanggar hak asasi manusia,” tegasnya.
Priyatna mengutarakan hal tersebut berkaitan dengan penangkapan Captain Marwoto Komar, pilot pesawat Garuda GA-200 yang mengalami kecelakaan di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta pada tanggal 7 Maret 2007.
Dalam diskusi panel yang diadakan di Gedung Gramedia tersebut juga hadir berbagai pakar dan praktisi penerbangan diantaranya Prof Oetarjo Diran, Captain Manotar Napitupulu dari Federasi Pilot Indonesia dan Captain Sadrach M Nababan serta pakar hukum pidana Prof Rudi Satrio.
Hadir pula sebagai peserta diskusi beberapa korban kecelakaan pesawat tersebut, yaitu, Adrianus Meliala, kriminolog dari Universitas Indonesia dan Reni Gonowati.
Menurut Adrianus, proses peradilan terhadap Marwoto harus terus dilanjutkan. “Biar hakim yang memutuskan apakah pilot bisa disalahkan atau tidak. Jika tidak begitu kepastian hukum tidak ada,” ujarnya.
Adrianus juga menyoroti perhatian negara yang sangat minim terhadap korban kecelakaan. Seharusnya negara mengambil alih tanggung jawab bila terjadi sebuah kecelakaan. Dengan demikian perspektif korban sebagai salah satu bagian dalam kecelakaan akan terperhatikan.
Sampai saat ini, tambah Adrianus, negara tidak mempunyai perhatian penuh pada korban kecelakaan. "Indikasinya, belum ada undang-undang yang mengatur soal tersebut," katanya. (Angkasa/Gatot)
Pendapat :
Tanggung jawab merupakan hal yang melekat dalam diri manusia. Ia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari manusia. Perbuatan sekecil apa pun, pasti memiliki tanggung jawab karena tanggung jawab adalah dampak kewajiban dari perbuatan atau tindakan manusia atas hal-hal yang dilakukan atau diperbuat. Tanggung jawab sendiri bermacam-macam, bergantung pada siapa atau apa yang menjadi obyek bahkan subyek tanggung jawab tersebut. Bentuk tanggung jawab tertinggi adalah tanggung jawab kepada Sang Pencipta alam semesta beserta isinya dan tanggung jawab terendah adalah tanggung jawab kepada diri manusia itu sendiri.
Tanggung jawab berkaitan cukup erat dengan pengabdian dan pengorbanan. Manusia dapat dikatakan bertanggung jawab bila ia mengabdikan diri terhadap sesuatu dan dari pengabdian diri tersebut, maka terlahir pengorbanan sebagai wujud dari pengabdian yang bertanggung jawab. Manusia mempunyai tanggung jawab kepada Tuhan sebagai bentuk pengabdian diri seorang makhluk terhadap Penciptanya. Seorang muslim misalnya, ia mempunyai tanggung jawab berupa kewajiban beribadah kepada Allah SWT baik dalam bentuk ritual maupun amal shaleh. Tanggung jawab seorang muslim tersebut adalah bentuk pengabdian diri sebagai hamba Allah SWT dan pengabdiannya tersebut, pasti akan ada pengorbanan karena pengorbanan adalah salah satu dampak bagian dari pengabdian. Maka, tanggung jawab memiliki kaitan tak terpisahkan dengan pengabdian dan pengabdian membutuhkan pengorbanan karena dengan adanya pengorbanan, tanggung jawab yang dimiliki dapat disebut pengabdian.
Berdasarkan artikel di atas, seorang pilot mempunyai tanggung jawab, yaitu tanggung jawab kepada para penumpang dan awak pesawat, maskapai tempat pilot tersebut bekerja, dan pemerintah sebagai lembaga otoritas yang mempunyai kewenangan tertinggi dalam Negara sebagai pelaksana undang-undang. Bila melihat kepada siapa pilot tersebut bertanggung jawab, maka tanggung jawab sang pilot dapat dikatakan tanggung jawab yang besar. Oleh sebab itu, bila sang pilot melakukan kesalahan baik disengaja atau tidak, pilot berhak mendapat sanksi atau hukuman sebagai bentuk pertanggungjawabannya sehingga ia dapat dikatakan pilot bertanggung jawab . Tanggung jawab sang pilot adalah bagian dari pengabdiannya sebagai pilot dalam dunia kedirgantaraan dan hukuman atau sanksi yang dterima adalah bentuk pengorbanan dalam melakukan pengabdian yang bertanggung jawab. Hal ini pun sebagai bukti bahwa hukum mempunyai kepastian hukum terhadap semua lapisan masyarakat yang bernaung di bawah hukum tersebut.

Sumber :
a.       Nugroho, Widyo dan Achmad Muchji.1996.Ilmu Budaya Dasar.Jakarta:Universitas Gunadarma
b.      http://nasional.kompas.com/read/2008/02/28/1859528
http://qiqinisa.files.wordpress.com/2011/04/cartoon-of-orange-man-family-thumb3291724.jpg
dliya060190.blogspot.com
https://encrypted-tbn3.google.com/images?q=tbn:ANd9GcQB_Vf7YCp4u9brSyARKBlziEHSgC1B_NGCeUL8Du3SMDCEJhnrJDNbCSwy

1 komentar:

  1. saya suka blok anda, saya berharap untuk melihat lebih banyak dari anda. apakah anda menjalankan situs lain????

    BalasHapus